Jumat, 27 November 2015

teori hrapan dan tujuan serta implikasinya



 Teori Harapan dan implikasi Praktisnya

    Teori ini diciptakan oleh David Nadler dan Edward 
     Lawler yang didasarkan pada empat asumsi mengenai
     perilaku dalam organisasi, yaitu:
1.      Perilaku ditentukan oleh kombinasi antara faktor faktor
         yang terdapat dalam diri orang dan faktor-faktor yang 
         terdapat di lingkungan.
2.      Perilaku orang dalam organisasi merupakan tindakan 
         sadar dari seseorang, dengan kata lain perilaku sese
         orang adalah hasi dari sebuah keputusan yang sudah 
         diperhitungkanoleh orang tersebut.
3.      Orang mempunyai kebutuhan, keinginan dan tujuan yang
          berbeda.
4.      Orang memilih satu dari beberapa alternatif perilaku ber
         dasarkan besarnya harapan memperoleh hasil dari sebuah perilaku.
        Atas dasar asumsi tersebut, Nadler dan Lawler menyusun 
        model harapan yang terdiri dari 3 komponen, yaitu :
  
     1. NILAI (Valence)
            Setiap bentuk insentif punya nilai positif atau negatif bagi 
         seseorang. Juga apakah nilai itu besar atau kecil bagi seseorang.
        Contoh : Seorang karyawan mendapatkan suatu penghargaan
        dari perusahaan dengan diberikan plakat, karena bakti kepada
        perusahaan selama sekian tahun. Tetapi, dampak negatifnya
        dapat membuat kecemburuan social terhadap karyawan lain.
        plakat hanya berupa sebuah pajangan yang mempunyai nilai
        kecil hanya untuk kepuasaan pribadi tidak bias dikomersilkan.

     2. INSTRUMENTALITAS
            Adanya hubungan antara pekerjaan yang harus dilakukan
       dengan harapan yang dimiliki. Jadi jika pekerjaan dilihat 
       bisa merupakan alat untuk mendapatkan apa yang diharapkan
       timbullah motivasi kerja.
       Contoh : seseorang mengikuti sebuah lembaga multi level mar
       keting (MLM) dengan mengharapkan keuntungan yang berlimpah, 
       karena bila mengandalkan insentif dari perusahaan tidak cukup 
       memadai sebab bisnis MLM ini cukup menjanjikan.
 
     3. PENGHARAPAN
       Persepsi tentang besarnya kemungkinan keberhasilan mencapai 
       tujuan/hasil kerja.
       Contoh: seorang karyawan mendapatkan insentif lebih bila 
       melakukan kerja lembur.

       Harapan kinerja-hasil. Orang mengharapkan sesuatu dari 
       perilakunya. Harapan ini Hasil dari sebuah perilaku mempunyai 
       kekuatan untuk menggerakkan motivasi. Dampak daya motivasi 
       untuk setiap orang tidak sama. Harapan upaya-kinerja. 
       Antisipasi tentang sulitnya mencapai suatu hasil mempengaruhi 
       orang untuk memilih alternatif perilaku.
            Teori Harapan menurut Victor Vroom, teori ini beragumen bahwa 
       kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu 
       cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan 
       bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu dan 
       pada daya tarik dari keluaran tersebut bagi individu tersebut. 
       Teori pengharapan mengatakan seorang karyawan dimotivasi 
       untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini 
       upaya akan menghantar kesuatu penilaian kinerja yang baik, 
       suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran 
       organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi 
       dan ganjaran itu akan memuaskan tujuan pribadi karyawan tersebut.

     Teori Tujuan dan implikasi praktisnya 

            Teori ini menyatakan bahwa mencapai tujuan adalah sebuah
      motivator. Hampir setiap orang menyukai kepuasan kerja 
      karena mencapai sebuah tujuan spesifik. Saat seseorang 
      menentukan tujuan yang jelas, kinerja biasanya meningkat sebab:
      • Ia akan berorientasi pada hal-hal yang diperlukan
      • Ia akan berusaha keras mencapai tujuan tersebut
      • Tugas tugas sebisa mungkin akan diselesaikan
      • Semua jalan untuk mencapai tujuan pasti ditempuh

            Teori ini mengatakan bahwa kita akan bergerak jika kita 
      memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Dari teori ini muncul 
      bahwa seseorang akan memiliki motivasi yang tinggi jika 
      dia memiliki tujuan yang jelas. Sehingga muncullah apa yang
      disebut dengan Goal Setting (penetapan tujuan).
 
            Penetapan tujuan juga dapat ditemukan dalam teori motivasi
      harapan. Individu menetapkan sasaran pribadi yang ingin
      dicapai. Sasaran-sasaran pribadi memiliki nilai kepentingan 
      pribadi (valence) yang berbeda-beda.
      Proses penetapan tujuan (goal setting) dapat dilakukan
      berdasarkan prakarsa sendiri, diwajibkan oleh organisasi 
      sebagai satu kebijakan peusahaan. Bila didasarkan oleh 
      prakarsa sendiri dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja 
      individu bercorak proaktif dan ia akan memiliki keterikatan 
      (commitment) besar untuk berusaha mencapai tujuan-tujuan 
      yang telah ia tetapkan. Bila seorang tenaga kerja memiliki 
      motivasi kerja yang lebih bercorak reaktif, pada saat ia diberi
      tugas untuk menetapkan sasaran-sasaran kerjanya untuk kurun
      waktu tertentu dapat terjadi bahwa keterikatan terhadap usaha 
      mencapai tujuan tersebut tidak terlalu besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar