Teori
Harapan dan implikasi Praktisnya
Teori ini
diciptakan oleh David Nadler dan Edward
Lawler yang didasarkan pada empat
asumsi mengenai
perilaku dalam
organisasi, yaitu:
1.
Perilaku ditentukan oleh kombinasi
antara faktor faktor
yang terdapat dalam diri
orang dan faktor-faktor yang
terdapat di lingkungan.
2.
Perilaku orang dalam organisasi
merupakan tindakan
sadar dari seseorang, dengan kata lain perilaku sese
orang adalah hasi dari sebuah keputusan yang sudah
diperhitungkanoleh orang tersebut.
3.
Orang mempunyai kebutuhan, keinginan
dan tujuan yang
berbeda.
4.
Orang memilih satu dari beberapa
alternatif perilaku ber
dasarkan besarnya harapan memperoleh hasil dari sebuah perilaku.
Atas dasar asumsi tersebut, Nadler dan Lawler menyusun
model harapan yang terdiri dari 3 komponen, yaitu :
1. NILAI
(Valence)
Setiap bentuk insentif punya nilai
positif atau negatif bagi
seseorang. Juga apakah nilai itu besar atau kecil bagi seseorang.
Contoh : Seorang karyawan mendapatkan suatu penghargaan
dari
perusahaan dengan diberikan plakat, karena bakti kepada
perusahaan selama sekian tahun. Tetapi, dampak negatifnya
dapat
membuat kecemburuan social terhadap karyawan lain.
plakat
hanya berupa sebuah pajangan yang mempunyai nilai
kecil
hanya untuk kepuasaan pribadi tidak bias dikomersilkan.
2. INSTRUMENTALITAS
Adanya hubungan antara pekerjaan yang
harus dilakukan
dengan
harapan yang dimiliki. Jadi jika pekerjaan dilihat
bisa merupakan alat untuk mendapatkan apa yang diharapkan
timbullah
motivasi kerja.
Contoh : seseorang mengikuti sebuah lembaga multi level mar
keting (MLM) dengan mengharapkan keuntungan yang berlimpah,
karena bila mengandalkan insentif dari perusahaan tidak cukup
memadai sebab bisnis MLM ini cukup menjanjikan.
3. PENGHARAPAN
Persepsi tentang besarnya kemungkinan keberhasilan mencapai
tujuan/hasil kerja.
Contoh: seorang karyawan mendapatkan insentif lebih bila
melakukan kerja lembur.
Harapan kinerja-hasil. Orang mengharapkan sesuatu dari
perilakunya. Harapan ini Hasil dari sebuah perilaku mempunyai
kekuatan untuk menggerakkan motivasi. Dampak daya motivasi
untuk setiap orang tidak sama. Harapan upaya-kinerja.
Antisipasi tentang sulitnya mencapai suatu hasil mempengaruhi
orang untuk memilih alternatif perilaku.
Teori Harapan menurut Victor Vroom, teori ini beragumen
bahwa
kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu
cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan
bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu dan
pada daya tarik dari keluaran tersebut bagi individu tersebut.
Teori pengharapan mengatakan seorang karyawan dimotivasi
untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini
upaya akan menghantar kesuatu penilaian kinerja yang baik,
suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran
organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi
dan ganjaran itu akan memuaskan tujuan pribadi karyawan tersebut.
Teori
Tujuan dan implikasi praktisnya
Teori ini menyatakan bahwa mencapai tujuan
adalah sebuah
motivator.
Hampir setiap orang menyukai kepuasan kerja
karena mencapai sebuah tujuan spesifik. Saat seseorang
menentukan tujuan yang jelas, kinerja biasanya meningkat sebab:
• Ia
akan berorientasi pada hal-hal yang diperlukan
• Ia
akan berusaha keras mencapai tujuan tersebut
•
Tugas tugas sebisa mungkin akan diselesaikan
•
Semua jalan untuk mencapai tujuan pasti ditempuh
Teori ini mengatakan bahwa kita akan
bergerak jika kita
memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Dari teori ini muncul
bahwa
seseorang akan memiliki motivasi yang tinggi jika
dia
memiliki tujuan yang jelas. Sehingga muncullah apa yang
disebut dengan
Goal Setting (penetapan tujuan).
Penetapan tujuan juga dapat ditemukan
dalam teori motivasi
harapan.
Individu menetapkan sasaran pribadi yang ingin
dicapai.
Sasaran-sasaran pribadi memiliki nilai kepentingan
pribadi (valence) yang berbeda-beda.
Proses penetapan tujuan (goal setting) dapat dilakukan
berdasarkan
prakarsa sendiri, diwajibkan oleh organisasi
sebagai satu kebijakan peusahaan. Bila didasarkan oleh
prakarsa sendiri dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja
individu bercorak proaktif dan ia akan memiliki keterikatan
(commitment)
besar untuk berusaha mencapai tujuan-tujuan
yang
telah ia tetapkan. Bila seorang tenaga kerja memiliki
motivasi kerja yang lebih bercorak reaktif, pada saat ia diberi
tugas untuk
menetapkan sasaran-sasaran kerjanya untuk kurun
waktu tertentu
dapat terjadi bahwa keterikatan terhadap usaha
mencapai tujuan tersebut tidak terlalu besar.