menurut wikupedia Kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna
menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan,
kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh[1] [2] atau kemampuan
seseorang atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan
keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo,2002) atau Kekuasaan merupakan
kemampuan memengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku
sesuai dengan kehendak yang memengaruhi (Ramlan Surbakti,1992).
Pengertian lain dari kekuasaan :
Dalam
pembicaraan umum, kekuasaan dapat berarti kekuasaan golongan, kekuasaan raja,
kekuasaan pejabat negara. Sehingga tidak salah bila dikatakan kekuasaan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang
kekuasaan tersebut. Robert Mac Iver mengatakan bahwa Kekuasaan adalah kemampuan
untuk mengendalikan tingkah laku orang lain baik secara langsung dengan jalan
memberi perintah / dengan tidak langsung dengan jalan menggunakan semua alat
dan cara yg tersedia. Kekuasaan biasanya berbentuk hubungan, ada yg memerintah
dan ada yg diperintah. Manusia berlaku sebagau subjek sekaligus objek dari
kekuasaan. Contohnya Presiden, ia membuat UU (subyek dari kekuasaan) tetapi
juga harus tunduk pada UU (objek dari kekuasaan).
Ada lima bentuk kekuasaan menurut French
and Raven (1960). Diantaranya Coersive Power, Insentive Power, Legitimate
Power, Expert Power dan Referent Power.
Bentuk kekuasaan yang pertama adalah Coersive
Power. Coersive Power merupakan
suatu kekuatan untuk memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang mungkin
melawan kehendak mereka. Dari sisi si pemegang kekuasaan (A), ia mempunyai
kekuasaan untuk memaksa orang lain agar mereka merasa takut. Pemaksaan juga
merupakan kekuatan utama semua pemerintah. Dalam kehidupan sehari-hari
contohnya adalah ketika seorang dosen membuat peraturan kepada mahasiswanya.
Mahasiswa tersebut harus masuk kelas minimal 10 kali dalam periode 1 semester
jika tidak maka dosen tersebut tidak akan memberikan nilai aman kepada
mahasiswa tersebut. Atau dapat juga ketika dosen tersebut mempunyai peraturan
dimana mahasiswa harus datang tepat waktu. Keterlambatan maksimal 15 menit.
Jika lewat dari jam tersebut ia tidak boleh mengikuti mata kuliah tersebut hari
itu. Dan apabila telah 3 kali terlambat atau tidak masuk kelas maka ia tidak
boleh mengikuti mata kuliah tersebut selama semester itu atau dengan kata lain
nilainya E. Hal tersebut termasuk coersive power dari si A (dosen) kepada si B
(mahasiswanya).
Kemudian bentuk kekuasaan yang kedua yaitu Insentive
Power. Insentive Power merupakan pematuhan yang dicapai berdasarkan
kemampuan untuk membagikan imbalan yang dipandang oleh B sebagai sesuatu yang
berharga. Dalam konteks organisasi, insentive dapat berupa gaji, kenaikan
pangkat, rekan yang ramah, informasi yang penting, daerah kerja yang disukai
dan penilaian hasil kerja. Kekuasaan yang demikian kemampuan memberi kepada
orang lain apa yang mereka inginkan, dan karenanya meminta mereka untuk
melakukan hal-hal untuk orang tersebut dalam pertukaran. Dalam kehidupan
sehari-hari dapat kita ambil contoh seorang manager sebuah kantor majalah
memberikan suatu informasi yang up to date, original dan belum diketahui
siapapun kepada seorang wartawan di kantor majalah tersebut. Maka informasi
tersebut dianggap sangat penting dan berharga bagi produktivitas wartawan itu
dan mungkin dapat mempromosikan kenaikan jabatannya. Hal tersebut menerangkan
adanya insentive power dari si A (manager) kepada si B (wartawan). Si wartawan
lebih mudah dipengaruhi managernya dan melakukan apa saja yang mungkin
managernya inginkan.
Bentuk kekuasaan yang ketiga adalah Legitimate
Power. Legitimate Power merupakan suatu kekuasaan sah/resmi yang diterima
oleh seseorang sebagai hasil dari pelimpahan wewenang dalam suatu organisasi.
Kekuasaan yang sah adalah sesuatu yang diinvestasikan dalam sebuah peran.
Legitimasi mungkin berasal dari kekuatan yang lebih tinggi, sering dikaitkan
dengan kekuatan pemaksa. Legitimate Power mempunyai pengaruh yang cepat. Bentuk
kekuasaan ini juga sering disebut sebagai posisi otoritas karena dapat mencakup
kekuasaan paksaan dan imbalan. Misalnya dalam kasus seorang supervisor casier
di suatu supermarket mempunyai kekuasaan terhadap bawahannya (casier). Apakah
supervisor harus mempertahankan karyawannya jika kinerjanya baik ataukah ia
harus memecatnya karena kinerjanya buruk. Hal tersebut telah menjadi
kekuasaannya. Ia mempunyai kekuasaan resmi dari pimpinan supermarket tersebut.
Bentuk kekuasaan yang keempat adalah Expert
Power. Expert Power merupakan suatu kekuasaan yang berupa pengaruh yang
didasarkan pada suatu keahlian atau keterampilan lebih. Kekuatan Expert adalah
bentuk yang sangat umum kekuasaan dan merupakan dasar untuk proporsi yang
sangat besar kolaborasi manusia, termasuk sebagian besar perusahaan di mana
prinsip spesialisasi memungkinkan perusahaan-perusahaan besar dan kompleks yang
harus dilakukan. Misalnya seorang arsitek dan designer interior kepada seorang
pengusaha yang ingin membangun perhotelan di suatu tempat. Arsitek tersebut
mempunyai kekuasaan berupa pengaruh kepada si pengusaha dalam hal perencanaan
pembangunan hotel tersebut karena ia lebih ahli dalam bidang konstruksi
bangunan dan design interior. Si pengusaha itu pun akan terpengaruh oleh
saran-sarannya karena ia ahli atau lebih banyak tahu di bidang tersebut. Hal
tersebut menunjukkan adanya expert power dari si A (arsitek) kepada si B
(pengusaha).
Bentuk yang terakhir adalah Referent Power.
Referent Power merupakan suatu bentuk kekuasaan yang berupa pengaruh yang
didasarkan oleh rujukan atau pemilikan sumber daya atau ciri pribadi yang
diinginkan seseorang. Kekuasaan ini didasarkan oleh kekaguman, mirip dengan
kharisma. Jika seseorang mengidolakan seseorang karena kagum, maka seseorang
yang menggagumi tersebut juga ikut terpengaruh oleh kekuasaan idolanya. Ini
adalah kekuatan karisma dan ketenaran dan dikerahkan oleh semua figur
masyarakat serta para pemimpin sosial yang lebih lokal. Mereka yang memiliki
kekuasaan rujukan juga dapat menggunakannya untuk pemaksaan. Misalnya sosok
Mario Teguh, seorang motivator terkemuka yang dikagumi banyak orang karena
kharismanya dan ciri pribadi yang menarik banyak perhatian para penggemarnya
bahkan peserta acara motivasi atau sekedar pemirsa televisi yang menyaksikan
acaranya pun dapat terpengaruh oleh apa yang ia bicarakan. Dan mungkin karena
ketenarannya Mario Teguh juga dapat mempengaruhi psoduser acara untuk
menjadikannya pembicara tetap di suatu acara dengan bayaran yang sesuai dengan
standar yang ia punya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar