Sabtu, 30 Mei 2015

hubungan kesehatan mental dengan religiusitas




Hubungan kesehatan mental manusia dengan religiusitas

Hubungan antara agama dan psikologi merupakan hal yang telah lama diperdebatkan. Pada awal berdirinya psikologi sebagai ilmu otonom, agama dipandang negatif oleh beberapa tokoh-tokoh psikologi yang terkenal. Salah satu tokoh tersebut adalah Sigmund Freud (1933) yang menyatakan bahwa “religion is an illusion and it derives its strength from the fact that it falls in with our instinctual desires”. Ia juga menyatakan bahwa “religion is comparable to a childhood neurosis”. Sedangkan Alber Ellis (1994) Percaya akan probabilitas bahwa tuhan ada dalam bentuk yang sangat kecil sehingga tidak layak untuk mendapatkan perhatian darinya atau orang lain.
Meskipun mendapat pandangan negatif dari beberapa tokoh psikologi, penelitian tentang korelasi antara agama dan kesehatan mental penganutnya terus berkembang, bahkan mampu membentuk sub disiplin ilmu yaitu psikologi agama. Dihasilkannya buku The Psychological of Religion: An Empirical Study of The Growth of Religious Counsciousness oleh Edwin Diller Starbuck pada tahun 1899 dinilai sebagai titik awal berkembangnya penelitian agama. Lalu, tokoh-tokoh psikologi lainnya seperti William James dan James H. Leuba pun ikut memperdalam penelitian dalam psikologi agama. Bahkan Ellis pun mengakui dan menyetujui bukti survey yang menyatakan bahwa dengan mempercayai tuhan yang penyayang dapat menyehatkan secara psikologis. Seiring dengan berkembangnya psikologi agama, semakin banyak penelitian yang menghasilkan bukti-bukti empiris yang mendukung adanya efek positif bagi kesehatan mental maupun fisik.
Karena pentingnya peran agama dalam kehidupan penganutnya, maka sangat penting bagi kita untuk mengkajinya secara lebih mendalam. Bahkan dalam agama itu sendiri, selalu ada sisi pengkajian tentang psikologi. Hal tersebut menunjukkan eratnya hubungan antara agama dan  psikologi. Dengan mengkaji efek dari penerapan ajaran agama secara mental dan fisik, diharapkan kita dapat menjadi lebih memahami  makna dari agama yang kita anut dan kita menjadi lebih bijaksana dalam menjalankannya.
Psikologi agama merupakan salah satu sub disiplin ilmu dari psikologi. Menurut Zakiyah Darajat,
“Psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku, serta keadaaan hidup pada umumnya, selain itu juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.” (sebagaimana dikutip dalam Jalaludin, 2004, hal.15).
Psikologi agama secara khusus mengkaji tentang proses kejiwaan seseorang terhadap tingkah laku dalam kehidupannya sehari-hari. Untuk itu dalam psikologi agama dikenal adanya istilah kesadaran agama (religious consciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Menurut Zakiah Darajat kesadaran agama itu adalah bagian atau hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi atau disebut juga dengan aspek mental dan aktivitas agama. Sedangkan yang dimaksud pengalaman agama adalah unsur perasaan dan kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakannya.
Dalam dua dekade terakhir, penelitian tentang efek agama mengalami berkembangan pesat. Secara gamblang, banyak penelitian dalam bidang psikologi, psikiatri, medis, kesehatan masyarakat, sosiologi dan epidemiologi yang membuktikan efek positif dari keterlibatan agama dalam kesehatan fisik dan mental manusia. Penelitian tersebut juga menunjukkan pentingnya aspek keagamaan dalam kehidupan manusia. Penelitian itu menggunakan beberapa unsur psikologis yang terkait dengan agama, yaitu: kepercayaan akan adanya Tuhan yang mempengaruhi kehidupan; tingkat kualitas dalam melakukan aktivitas agama (contoh: frekuensi berdoa, penghayatan dalam berdoa); dan tingkat komitmen dalam beragama.
Beberapa penelitian telah dilakukan di Amerika Serikat, Denmark, Finlandia, dan Taiwan yang bertujuan untuk melihat hubungan antara agama serta kesehatan mental dan fisik manusia. Dari penelitian tersebut, diperoleh hasil bahwa 25-30% individu yang aktif dalam menjalankan kegiatan agama memiliki usia lebih panjang dibandingkan dengan yang tidak. Tingkat keaktifan beragama diukur dengan berbagai cara, antara lain dengan mengukur tingkat kepercayaan pada agama, maupun frekuensi kunjungan dan keikutsertaan dalam kegiatan ibadah (salat, berdoa, dan atau membaca kitab suci). Selain itu, individu remaja atau dewas–dengan latar belakang berbagai agama—dengan tingkat religiusitas tinggi lebih tidak menyukai minum-minuman keras atau rokok dan hal-hal tidak baik lainnya, mereka pun lebih sering menaati peraturan dan makan dengan pola makan yang baik sehingga berimplikasi pada kondisi kesehatan mereka secara fisik. Diasumsikan bahwa individu dengan tingkat religiusitas tinggi memiliki sel-regulation tinggi sehingga ia mampu mengontrol diri untuk menjauhi hal-hal yang tidak baik tersebut yang memberi efek buruk bagi kesehatan mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh Larson menunjukkan bahwa  agama dan spiritualitas mampu member efek positif pada kesehatan fisik. Beberapa efek yang telah diukur oleh Larson yaitu: 1) menurunnya tekanan darah sistol, tekanan darah diastole, kadar kolesterol, dan stress yang diakibatkan oleh pembedahan. 2) Menurunnya rasio penyakit jantung, sirosis, efisema, myocardial infarction, stroke, gagal ginjal, kematian akibat kanker, kematian dalam pembedahan jantung, dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit secara umum. 3) Meningkatnya gaya hidup sehat dan usia hidup. (see Larson et al., 1998; Levin & Vanderpool, 1992).
Selain berdampak positif pada kesehatan fisik, agama dan religiusitas juga berpengaruh pada kesehatan mental. Hasil penelitian selama dua decade terakhir menyimpulkan bahwa agama memiliki kaitan dengan kesejahteraan psikologis. Individu dengan konsep agama yang positif memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami depresi. Selain itu, individu juga akan merasa bahagia dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Penjelasan lain juga mengungkapkan bahwa dengan berdoa, keadaan psikologis dari seseorang akan menjadi lebih tenang, sehingga tubuh menjadi lebih rileks. Hal itu pun berakibat pada berkurangnya tingkat kecemasan dan selanjutnya juga member efek positif pada fisik, seperti lancarnya proses pernafasan dan pencernaan.
Tingkat religiusitas juga berpengaruh pada ketahanan individu untuk menghadapi kondisi yang mungkin member pengaruh buruk bagi mental, seperti diungkapkan oleh Braam et al. (2004) bahwareligion may offer a frame of reference toward questions of life, suffering and death, and may help to accept a decrease in physical functioning in light of religious and spiritual values” (p. 485). Secara umum, kesehatan mental dan fisik akan saling mempengaruhi, sehingga individu yang memiliki religiusitas tinggi akan memiliki kondisi mental dan fisik yang baik.
Namun perlu diketahui bahwa efek dari agama dan tingkat religiusitas sangat dipengaruhi oleh bagaimana individu menerapkan agama yang mereka anut. Jika individu menganut suatu agama secara sangat patuh tanpa memikirkan kondisi sosialnya, hal itu dapat bersifat psikopatologis. Hal yang sama juga berlaku jika individu menjalankan agama secara parsial maupun semaunya.
Karena agama memiliki efek yang sangat baik jika diterapkan secara bijak, sudah seharusnya kita menerapkan ajaran agama kita dengan sepenuh hati. Jika dilakukan dengan terpaksa, efek yang diakibatkannya pun akan berbeda. Selain itu, pengetahuan tentang agama harus terus dikaji lebih dalam agar tidak terjebak dalam kesalahan pada penerapan ajaran agama yang justru member efek negatif.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa manusia adalah  mahluk religious , manusia anak lebih merasa tenang dan aman jika dia memiliki religiusitas .

Daftar Pustaka

Arifin S. B. (2008). Psikologi agama, Bandung: Pustaka Setia.
Ariyanto, N. (2010). Psikologi, Agama, dan Kesehatan. Diambil pada 31 September 2011, dari http://ruangpsikologi.com/psikologi-agama-dan-kesehatan
Braam, A. W. et al. (2004). Religious involvement and 6-year course of depressive symptoms in older Dutch Citizens: Results from the longitudinal aging study Amsterdam. Journal of Aging and Health, 16(4), 467-489.
Chan Y. dan Yeung, W. J. (2007). The positive effects of religiousness on mental health in physically vulnerable populations: A review  on recent empirical studies and related theories.  International Journal of Psychosocial Rehabilitation. 11 (2),  37-52
Ellis A. (2000). Can rational emotive behavior therapy (REBT) be effectively used with people who have devout beliefs in God and religion?. Professional Psychology: Research and Practice, 31(1), Feb 2000, 29–33
Formica,  M. J. (2010). The Science, Psychology and Metaphysics of Prayer. Diambil pada 31 September 2011, dari http://www.psychologytoday.com/blog/enlightened-living/201007/the-science-psychology-and-metaphysics-prayer
Freud S. (1932). Lecture XXXV: A Philosophy of Life. 27 November 2011, dari http://www.marxists.org/reference/subject/philosophy/works/at/freud.htm
Freud S. (1932). New Introductory Lectures on Psycho-analysis,  London: Hogarth Press.
Jalaluddin (1997). Psikologi agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
McCullough, M. E., & Willoughby, B.L. 2009. Religion, Self-Regulation, and Self-Control: Associations, Explanations, and Implications. Psychological Bulletin 2009, Vol. 135, No. 1, 69–93.
Nielsen, Stevan Lars & Ellis, Albert. (1994). A discussion with Albert Ellis: Reason, emotion and religion, Journal of Psychology and Christianity, 13 (4), Winter 1994. 327–341
Sallquist, J., Eisenberg, N., French, D., Purwono, U., & Suryanti, T.A. (2010). Indonesian adolescents’ spiritual and religious experiences and their longitudinal relations with socioemotional functioning. Developmental Psychology 2010, Vol. 46, No. 3, 699–716.
Seybold K. S. and Hill P. C. The role of religion and spirituality in mental and physical health. Current Directions in Psychological Science, Vol. 10, No. 1 (Feb., 2001), 21-24


stress pada wanita



Stress yang dialami para wanita

Wanita adalah makhluk yang diciptakan tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangannya . wanita sangan istimewa karena ia dapat merasakan hal yang tidak ada pada kaum lelaki . dengan itupun wanita memiliki masalahnya sendiri yang mungkin tidak dapat dieasakan pula dengan kaum lelaki . ada berbagai masalah yang dialami wanita salah satunya adalah stress.
Dalam ilmu psikologi, stress merupakan tekanan atau tuntutan pada organisme untuk beradaptasi atau menyelaraskan diri dengan lingkungan sehingga memiliki efek fisik dan psikis serta dapat membuat perasaan positif atau negatif. Sedangkan tingkat stres adalah hasil penilaian terhadap berat ringannya stress yang dialami seseorang. Tingkatan stress ini diukur dengan menggunakan Depression Anxiety Stress Scale.
Studi di Amerika Serikat, seperti dikutip dari Daily Mail, mengungkapkan, wanita lebih sensitif terhadap kemunculan hormon stres, meski dalam kadar minimal. Sedangkan pria cenderung imun terhadap hormon stres, meski dalam kadar tinggi.
Kondisi itulah yang membuat wanita rentan terjerumus dalam krisis emosi di kehidupannya. Wanita lebih rentan mengalami depresi, trauma, dan masalah psikologis lainnya. Meski demikian, peneliti belum dapat mengungkap alasan biologisnya secara detail.
Studi dilakukan dengan fokus analisa hormon stres yaitu, corticotropinreleasing factor (CRF), senyawa yang memegang kontrol reaksi tubuh terhadap permasalahan hidup. CRF memegang kendali atas kondisi psikologis seseorang.
Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Molecular Psychiatry dilakukan dengan percobaan menggunakan sampel tikus. Peneliti menganalisa sel-sel otak tikus betina dengan kadar CRF rendah. Meski memunculkan kondisi gembira, namun hormon stres terlihat mengikat kuat protein sel otak. Hal inilah yang membuat sensitivitasnya terhadap stres tinggi.
Wanita cendrung lebih mudah stress disbanding pria!!!
Menurut Gobind Vashdev dalam buku Happiness Inside menyatakan bahwa umumnya wanita lebih mudah mengalami stres daripada pria. Secara fisiologis, otak wanita lebih kecil daripada otak pria. Meskipun begitu, otak wanita bekerja 7-8 kali lebih keras dibandingkan pria pada saat mengalami masalah. Inilah yang menyebabkan wanita lebih mudah merasa stres daripada pria.
Selain itu, wanita selalu membuat satu permasalah menjadi lebih kompleks, karena adanya jembatan pada otak kanan dan otak kiri yang bernama corpus colasum yang lebih tebal dan lebih banyak 30% daripada otak pria. Inilah yang memungkinkan bahwa wanita lebih gampang stres karena wanita lebih mudah menghubungkan satu hal dengan hal lainya. Selain itu, wanita cenderung melibatkan emosi dalam permasalahannya yang berbeda dengan pria, yang hanya menggunakan logika ketika menghadapi masalah.
Bukti lain yang membuat wanita lebih mudah stres yang diungkapkan oleh Simone de Beauvoir dalam bukunya Second Sex bahwa  adalah adanya keinginan untuk tampil menjadi wanita sempurna. Menjadi pasangan yang dipandang cantik oleh kekasihnya, wanita karier dengan karier yang gemilang dan keinginan tampil berbeda setiap harinya. Keinginan ini bersumber dari dalam diri, bukan dari luar diri mereka.
Selain itu, menurut John Gray Ph.D menyatakan bahwa wanita ingin selalu menyenangkan orang lain, mereka ingin selalu memberikan yang terbaik tetapi memberi pada diri sendiri pun tidak cukup. Inilah penyebab wanita kewalahan dan menderita stres yang tinggi. Selain dari beberapa penyebab yang sudah dipaparkan di atas, kondisi hormonal yang tidak seimbang sebelum menstruasi sangat mempengaruhi kondisi emosional wanita. Sangat mudah kita tebak saat wanita  sedang menstruasi, mereka akan mudah marah, cerewet, lemas, tidak bersemangat dan ekspresi wajah yang kurang sedap di pandang.
Tingkatan stress pada instrumen ini berupa normal, rendah, sedang, berat, dan sangat berat[ sering ditemukannya kasus stress terhadap wanita dengan berbagai penyebabnya . beberapa penyebab wanita stress.
1.       Stress dalam pekerjaan dikantor maupun dirumah
kesulitan wanita dalam berganti peran dalam kehidupan sosial dan rumah tangga. Di era modern ini, para wanita diharapkan menjalankan berbagai peran menurut standar masyarakat yang ada. Sebagai ibu, wanita harus memperhatikan dan mengasuh si buah hati, sebagai istri, ia harus melayani suami dan menggerakkan roda kehidupan rumah tangga bersama-sama, dan jika wanita tersebut bekerja, maka ia mempunyai peran tambahan lagi, yaitu dengan melakukan profesi yang ia kerjakan. Apalagi, jika profesi tersebut menuntut tanggung jawab yang berat seperti dokter, atau pekerjaan yang membutuhkan waktu banyak. Semakin banyak peran yang anda ambil, semakin banyak pula masalah atau konflik yang mungkin terjadi di berbagai bidang tersebut. Misalnya selain mengalami konflik dengan suami, masalah di tempat kerja juga masih muncul sebagai gangguan. Jika salah satu dari peran tersebut gagal dikerjakan, maka tekanan yang mendera diri wanita tersebut dapat mengakibatkan stres dan gangguan psikologis lainnya.
2.       Stress terhadap penuaan
Hal ini sering teradi pada kalangan wanita pekerja terlebih pekerjaan yang mengkhusus kan dia berpenampilan menarik selayaknya waita muda seperti pragawati, pramugari, artis dan lain sebagainya . untuk itu tak jarang wanita mengalami stress karena berpenampilan tidak menarik, keriput, tidak gesit dan sebagainya dan itu membuat ia takut  akan menghancurkan karirnya. Atau bahkan seorang istri yang takut tidak cantik lagi yang membuat sang suami kecewa .

3.       Stress terhadap pasca melahirkan
Wanita memiliki hormone yang tidak stabil mulai pada saat pubertas hingga menjelang monopouse , hal itu membuat wanita mudah cemas, marah , sedih dan sensitif tanpa alas an yang pasti. Dan wanita mengalami stress pada saat melahirkan, memang tidak semua wanita mengalami hal ini namun tidak jarang pula wanita mengalami stress pasca melahirkan karena Takut dengan keadaan dirinya dan anaknya apalagi wanita yang berada dalam keluarga yang tidak mampu , dia cemas akan biaya rumah sakit, bidan dan sebagainya dan juga sang wanita yang mengandung buah hati diluar pernikahan yang tidak sah atau bahkan wanita yang mempunyai suami tidak bertanggung jawab , dia dituntut untuk mengandung tanpa ada pendamping seorang suami .
Maka tak jarang kita dengar wanita yang membuang buah hatinya , menelantarkannya bahkan sampai tega membunuhnya dan terlebih lagi adalah wanita itu menjadi pengidap gangguan jiwa. Untuk itu stress pasca melahirkan tidak boleh diremehkan .   

4.       Stress terhadap suami yang nakal
Dalam al-qur’an Istri adalah wanita yang diharuskan untuk melayani seorang suami dengan sebaik mungkin. Namun tidak jarang suami yang kita cintai dan kita percayai membuat kesalahan dengan selingkuh atau sebagainya . terkadang hal tersebut membuat sang wanita tidak dapat menerima kenyataan bahwa suaminya berbaauat seperti itu dan hal trsebut memuat sang wanita mengalami stress terlebih jika sang wanita tidak bekerja/ kurang berada di lingkungan social dan sudah memiliki anak . hal tersebut sangatlah sulit bagi sang wanita dengan memendam perasaanya supaya sang anak tidak mengetahui dan keluargapun juga tidak mengetahuinya .
 maka tak jarang sang waita mengalami stress berat dan melakukan tindakan criminal seperti membunuh suaminya, menelantarkaan anak, anak menjadi sasaran kemarahan sang ibu kepada ayahnya, dan juga dengan melampiaskan amarahnya dengan berbelanja sebanyak mungkin.
5.       Stress terhadap penampilan yang kurang menarik
Wanita identic dengan keindahan , keindahan wajah, tubuh maupun sikapnya yang lemah lembut. Nah wanita yang memiliki penampilan kurang menarik seperti berat badan yang berlebihan, gaya rambut yang tidak sesuai dengan jaman bahkan wajah yang terkadang membuat wanita tidak percaya diri akibatnya stress pun melanda banyak wanita yang pada akhirnya melakukan oprasi plastic, sedot lemak , kesalon untuk perawatan, dan lain sebagainya.
Dengan alas an untuk menrik perhatian para kaum lelaki dan untuk tidak merasa tersaingi oleh wanita lain . namun sebenarnya jika kita bersyukur dengan apa yang kita punya semua itu akan lebih terasa nikmat .
6.       Stress karena hormone
Wanita memiliki hormone yang sifatnya naik-turun.
fluktuasi hormon yang terjadi dengan siklus menstruasi setiap bulan mungkin berkontribusi pada PramenstruasiSindrom (PMS) dan gangguan dysphoric pramenstruasi (PMDD Sindrom) parah. Hal ini ditandai terutama oleh depresi, kecemasan, dan perubahan suasana hati yang terjadi seminggu sebelum menstruasi yang mungkin mengganggu fungsi normal sehari-hari.

Hal apa yang harus dilakukan ?
1.       Bersantai dan meminum kopi
Bersantai adalah cara yang paling bermanfaat karena dapat menetralisirkan pikiran-pikiran negative juga membuat kita berfikir ulang tentang apa yang seharusnya dilakukan dana cara yang terbaik menyelesaikannya .
Minum kopi dapat mengatasi stress pada wanita. Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Social Psychology, dalam situasi stress wanita yang minum kopi berkafein mampu tampil lebih baik dibandingkan pria. Studi yang dipimpin oleh Dr Lindsay St Claire dari Universitas Bristol.
2.       Hangout dengan teman
Teman adalah salah satu yang kita butuhkan saat keadaan genting, temanlah yang paling kita cari saat keadaan sedih maupun gusar. Manfaat teman sangatlah besar, kia dapat leluasa bercerita tentang masalah yang sedang dialami dan tak jarang teman yang memberi jalan keluar atau sekedar memberi semangat . sekecil apapun hal yang dapat kita ambil namun tetaplah teman yang berkontribusi meluapkan kejenuhan pikiran yang membuat mengurangi stress tersebut.
3.       Memanjakan diri
Suatu cara untuk lebih menganal diri sendiri tidak perlu mahal dan membuang uang , hal kecilpun bisa menenangkan seperti menonton film kesukaan, bercengkrama dengan anak, mengunjungi rumah orang tuan, mengunjungi museum-museum terdekat bukan hanya murah namun juga menambah pengetahuan dan merelaxkan pikiran dari masalah yang dialami . namun jika anda diberi rezeki yang berlebih makan ada dapat pergi ketempat spa, berbelanja barang kesukaan , mengunjungi tempat menarik seperti pantai dan pegunungan yang menyejukan .
4.       Meditasi
Meditasi adalah cara menetralkan pikiran supaya dapat berfikir jernih dan menenangkan hati lebih efektif jika dibarengi dengan music yang menenangkan seperti music klasik atau suara air dan burung  ditambah dengan wewangian aromaterapi .

Wanita adalah makhluk yang lemah lembut dan rentan namun tidak semuanya benar, terkadang wanita lebih tangguh dan tegar dari kaum lelaki . maka tidak jarang kita mendengar bahwa wanita adalah tiang penyanggah didalam rumah . maka dibalik pria yang sukses terdapat wanita yang hebat.

Daftar Pustaka
Journal of Health Psychology 1–11c The Author(s) 2014 Reprints and permissions:sagepub.co.uk/journalsPermissions.navDOI: 10.1177/1359105314544132
D’Zurilla, T.J., Seedy,C.F(1991. Relation between social problem-solving ability and subsequent level of psychological stress . journal of personality and social psychology, 61(5), 841-846
Sulistiowati . Soesanto,Edy.Astuti Purwanti, Indri. HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRES DENGAN KEJADIAN HIPEREMESIS
GRAVIDARUM PADA IBU HAMIL TRI MESTER I DI BPS NY. SAYIDAH KENDAL.Program Studi D-III Kebidanan, Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan .Universitas Muhammadiyah Semarang
            Guyton AC., Hall JE. 2004. Text Book of Medical Physiology. 10th ed. New York: WB. Saunders Company
Rini, J.F., Stress Kerja, Jakarta, Team e-psikologi.com, 2002, URL: http://dennyhendrata.wordpress.com/2006/12/04/stress-kerja/
Sriati, A., Tinjauan Tentang Stress, Universitas Padjadjaran, Jatinagor, 2008.