Kesehatan
mental
A. Sejarah
kesehatan mental
Istilah Kesehatan Mental diambil dari konsep mental
hygiene, kata mental berasal dari bahasa Yunani yang berarti Kejiwaan. Kata
mental memilki persamaan makna dengan kata Psyhe yang berasal dari bahasa latin
yang berarti Psikis atau Jiwa, jadi mental hygiene berarti mental yang sehat
atau kesehatan mental. Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari
keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian
diri terhadap lingkungan sosial).
Menurut Kartini Kartono dan Jenny Andary Kesehatan
mental adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan mental/jiwa, yang
bertujuan mencegah timbulnya gangguan/penyakit mental dan gangguan emosi, dan
berusaha mengurangi atau menyembuhkan penyakit mental, serta memajukan
kesehatan jiwa rakyat
· A.Tahun 1600an
Bangsa indian percaya dukun dapat menyembuhkan
dengan menggunakan kekuatan supranatural dan menjalani ritual penembusan dan
peyucian. Pada saat itu masyarakat percaya bahwa kesehatan mental dipengaruhi
oleh roh-rok oleh karena itu tidak dianggap sakit atau di asingkan .
· B. Tahun 1700an
Seorang pendeta yang bernama cotton mather telah
mematahkan pandangan masyarakat tentang kesehatan mental yang sakit bukan
karena roh-roh atau supranatural tapi karena kelainan ditubuh manusia itu
sendiri . saat itu penderita kesehatan mental sangat dibebani dengan perlakuan
yang kasar dan tidak terpuji oleh masyarakat karena mereka berfikir orang
dengan gangguan jiwa membawa hal-hal buruk dan tidak patut untuk hidup sampai
pada akhirnya seorang pendiri yang bernama philip pinel membuat gebrakan besar
dalam penanganan penyakit mental dengan layak dan manusiawi.
· C.Tahun 1800an
Benjamin rush adalah pengacara yang menangani
masalah penanganan untuk penyakit mental dengan mempublikasikan “medical
inquiries and observations upon diseases of the mind” dengan itu di inggris
timbul rasa optimisme dalam penanganan penyakit mental dikatakan bahwa rumah
sakit jiwalah yang dirasa cukup aman dan terbaik bagi para penderitanya dan saat
itu terjadinya pembangunan rumah sakit jiwa di amerika serikat.
· D.Tahun 1900an
A mind That Found Itself adalah judul buku yang
dikarang oleh Clifford beers berisikan tentang pengalaman dirinya saat ada di
rumah sakit jiwa swasta di amerika , dia menderita manis depresif setelah
kehilangan kakaknya disana ia mendapatkan penanganan yang tidak manusiawi oleh
karena itu dia menuangkan ceritanya kedalam buku guna menjadi visinya dalam
penanganan yang lebih baik dan manusiawi dan pada akhirnya ia mendirikan masyarakat
Connecticut untuk mental hygiene dan berkembang menjadi komite nasional untuk
mental higience dengan meluncurkan undang2 dalam treatment penyandang gangguan
mental.
Saat itu freud dating ke amerika dan mengajar
psikoanalisa di clark university . ada juga emil kraeplin yang menemukan
penyakit Alzheimer dan mengembangkan alat tes yang juga dpt mendeteksi
epilepsy.
Dieropa pun telah berkembang dalam penanganan
penyandang gangguan mental . yang lebih menakjubkan adalah penemuan elektropika
untuk penderita gangguan mental di inggris dan fountain hous di newyork memulai
rehabilitasi psikiatrik serta penemuan obat antiseptic yang bernama
“chlorpromazine” untuk schizoprenia , “haloperidol” untuk psikosis. “ lithium”
untuk manis depresif .
Banyak hal yang pesat terjadi pada era ini .
B. Konsep
Sehat
Dalam kehidupan sehari-hari kata-kata sehat sering
kali di pakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal atau
dalam kondisi yang normal.
Menurut UU pokok kesehatan, pengertian sehat adalah
keadaan yang meliputi sehat badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, seta
bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.
1. Ciri-ciri
Tingkah Laku Sehat atau Normal
Tingkah laku yang normal seringkali kurang mendapatkan perhatian karena tingkah laku tersebut dianggap wajar, sedangkan tingkah laku abnormal biasanya lebih mendapatkan perhatian karena biasanya tidak wajar dan aneh.
Adanya ciri-ciri individu yang
normal atau pada umumnya adalah sebagai
berikut :
1) Bertingkah
laku menurut norma-norma social yang diakui.
2) Mampu
mengelola emosi
3) Mampu mengaktualkan potensi-potensi yang
dimiliki.
4) Dapat
mengakui kebiasaan-kebiasaan social
5) Dapat
mengenali risiko dari setiap perbuatan dan kemampuan tersebut digunakan untuk
menuntun tingkah lakunya.
6) Mampu
menunda keinginan sesaat untuk mencapai tujuan jangka panjang.
7) Mampu
belajar dari pengalaman
8) Biasanya
gembira.
Harber dan Runyon (1984), menyebutkan sejumlah ciri
individu yang biasa dikelompokkan sebagai normal adalah sebagai berikut:
1) Sikap
terhadap diri sendiri. Mampu menerima diri sendiri apa adanya.
2) Persepsi
terhadap realita. Pandangan yang realitas terhadap diri sendiri dan dunia
sekitar yang meliputi orang lain maupun segala sesuatunya.
3) Integrasi. Kepribadian yang menyatu dan
harmonis, bebas dari konflik-konflik batin.
4) Kompetensi.
Mengembangkan keterampilan mendasar berkaitan dengan aspek fisik, intelektual,
emosional, dan social untuk dapat melakukan koping terhadap masalah-masalah
hidup.
5) Otonomi. Memiliki ketetapan diri yang kuat,
bertanggung jawab, dan penentua diri dan memiliki kebebasan yang cukup terhadap
pengaruh social.
6) Pertumbuhan
dan aktualisasi diri. Mengembangkan kecenderungan kea rah peningkatan
kematangan, pengembangan potensi, dan pemenuhan diri sebagai seorang individu.
7) Relasi interpersonal. Kemampuan untuk
membentuk dan memelihara relasi interpersonal yag intim.
8) Tujuan hidup. Tidak terlalu kaku untuk
mencampai kesempurnaan.
2. Berbagai
pendekatan Berkaitan dengan Normal-Abnormal
Pada umumnya ada beberapa pendekatan yang digunakan untuk menentkan apakah seseorang termasuk dalam kategori sehat secara mental ataukah tidak.
a. Pendekatan
Statistik
Pendekatan
ini beranggapan bahwa orang yang sehat secara mental/normal adalah orang yang
melakukan tingkah laku yang umumnya dilakukan oleh banyak orang lainnya.
b. Pendekatan Normatif
Pendekatan ini melihat orang sehat secara mental berdasarkan apakah tingkah laku orang tersebut menyimpang dari norma social yang berlaku di masyarakat (devian) ataukah tidak.
Pendekatan ini melihat orang sehat secara mental berdasarkan apakah tingkah laku orang tersebut menyimpang dari norma social yang berlaku di masyarakat (devian) ataukah tidak.
c. Pendekatan Distress Subjektif
Pendekatan ini beranggapan orang dianggap normal atau sehat bila dia merasa sehat atau tidak ada persoalan dan tekanan yang mengganggunya. Kelemahan pendekatan ini adalah karena menekankan pada subjektivitas individu mengakibatkan tidak ada ukuran yang pasti sehingga semuanya menjadi serba relative, tergantung pada situasi yang dihadapi.
Pendekatan ini beranggapan orang dianggap normal atau sehat bila dia merasa sehat atau tidak ada persoalan dan tekanan yang mengganggunya. Kelemahan pendekatan ini adalah karena menekankan pada subjektivitas individu mengakibatkan tidak ada ukuran yang pasti sehingga semuanya menjadi serba relative, tergantung pada situasi yang dihadapi.
d. Pendekatan Fungsi/Peranan Sosial
Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang berdasarkan mampu atau tidaknya orang tersebut menjalankan kegiatan harinya. Kelemahan pendekatan ini adalah tidak semua orang bias dikatakan normal meskipun dia mampu menjalankan fungsi dan peranan.
Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang berdasarkan mampu atau tidaknya orang tersebut menjalankan kegiatan harinya. Kelemahan pendekatan ini adalah tidak semua orang bias dikatakan normal meskipun dia mampu menjalankan fungsi dan peranan.
e. Pendekatan Interpersonal
Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang atau apakah orang tersebut mampu menyesuikan diri dilihat berdasarkan kemampuan seseorang untuk menjalani hubungan yang interpersonal dengan orang lain. Pendekatan ini pun memiliki kelemahan. Tidak selalu orang yang menyendiri itu tidak sehat atau tidak normal dan tidak mampu menyesuaikan diri.
Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang atau apakah orang tersebut mampu menyesuikan diri dilihat berdasarkan kemampuan seseorang untuk menjalani hubungan yang interpersonal dengan orang lain. Pendekatan ini pun memiliki kelemahan. Tidak selalu orang yang menyendiri itu tidak sehat atau tidak normal dan tidak mampu menyesuaikan diri.
Pendekatan
Kesehatan Mental
Seseorang dapat dikatankan mencapai taraf kesehatan
jiwa, jika ia dapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju
kedewasaan, ia bisa menghargai orang lain dan dirinya sendiri, ada 3 teori
dalam kesehatan mental, yaitu :
a. Orientasi klasik
Sehat secara mental artinya tidak ada masalah
ataupun keluhan mental, artinya seseorang dapat dikatakan dan dianggap sehat
juika orang tersebut tidak mempunyai kelakukan dan perasaan tertentu, seperti
rasa rendah diri, rasa lelah, cemas, ketegangan, dll yang dapat menimbulkan
perasaan sakit atau tidak sehat yang dapat mengganggu kegiatan sehari-hari.
Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri
mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang
yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan
mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental
artinya tidak ada keluhan mental. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental
belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap
lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan
lingkungannya dapat digolongkan sehat mental
b. Orientasi penyesuaian diri
Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri,
pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat
individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama
norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental
seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga
pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam
masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi
dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau
sakit mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan
sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering
melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh lingkungan pada
satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan
di waktu lain.
dapat kita pahami bahwa tidak ada garis yang tegas
dan universal yang membedakan orang sehat mental dari orang sakit mental. Oleh
karenanya kita tidak dapat begitu saja memberikan cap ‘sehat mental’ atau
‘tidak sehat mental’ pada seseorang. Sehat atau sakit mental bukan dua hal yang
secara tegas terpisah. Sehat atau tidak sehat mental berada dalam satu garis
dengan derajat yang berbeda. Artinya kita hanya dapat menentukan derajat sehat
atau tidaknya seseorang. Dengan kata lain kita hanya bicara soal ‘kesehatan
mental’ jika kita berangkat dari pandangan bahwa pada umumnya manusia adalah
makhluk sehat mental, atau ‘ketidak-sehatan mental’ jika kita memandang pada
umumnya manusia adalah makhluk tidak sehat mental. Berdasarkan orientasi
penyesuaian diri, kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian
seseorang secara keseluruhan. Penentuan derajat kesehatan mental seseorang
bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan
dan perkembangan seseorang dalam lingkungannya.
c. Orientasi perkembangan potensi
Keharmonisan antara pikiran dan perasaan dapat
mebuat tidakan seseorang tampak matang dan wajar, dalam mencapai beberapa taraf
kesehatan jiwa, jika seseorang dapat kesemoatan untuk mengembangkan
potensialitasnya menuju kedewasaan, bisa menghargai dirinya sendiri dan bisa di
hargai oleh orang lain. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang
menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah
akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang
sangat menentukan adalah perasaan. Telah terbukti bahwa tidak selamanya
perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering terjadi sebaliknya, pikiran
tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara pikiran dan
perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan wajar.
Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental
atau kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan
emosi, mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukan jiwa. Menjaga
hubungan sosial akan dapat mewujudkan tercapainya tujuan masyarakat membawa
kepada tercapainya tujuan-tujuan perseorangan sekaligus. Kita tidak dapat
menganggap bahwa kesehatan mental hanya sekedar usaha untuk mencapai
kebahagiaan masyarakat, karena kebahagiaan masyarakat itu tidak akan
menimbulkan kebahagiaan dan kemampuan individu secara otomatis, kecuali jika
kita masukkan dalam pertimbangan kita, kurang bahagia dan kurang menyentuh
aspek individu, dengan sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan kemampuan
social
C. Perbedaan
kesehatan mental di budaya timur & barat
Budaya barat dan timur ternyata memiliki perbedaan
yang dasar mengenai konsep sehat-sakit.perbedaan ini kemudian mempengaruhi
system pengobatan di kedua kebudayaan.akibatnya,pandangan mengenai kesehatan
mental juga berbeda.namun dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang membuat
relasi antar manusia semakin mengglobal,pertemuan antara kedua budaya ini tidak
lagi dapat di hindari sehingga sekarang ini di temui berbagai cara penanganan
kesehatan yang mencoba mengintegrasikan system pengobatan antara kedua
kebudayaan.
Sehat dan kesehatan tidak pernah di bahas secara ekplisit sehingga istilah kesehatan bahkan tidak tercantum di dalam indeks buku (joesoef,1990) . (freund) (1991) dengan mengutip the international dictionary of medicine and biology ,mendefinisikan kesehatan sebagai “suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya,yang di cirikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit “. Jadi sekali lagi pemahaman mengenai kesehatan umumnya masih berfokus pada masalah fisik dan bertitik tolak pada masalah ada tidaknya penyakit .itulah yang menjadi alas an mengapa konsep mengenai penyakit (illness) juga menjadi pembahasan.
Sehat dan kesehatan tidak pernah di bahas secara ekplisit sehingga istilah kesehatan bahkan tidak tercantum di dalam indeks buku (joesoef,1990) . (freund) (1991) dengan mengutip the international dictionary of medicine and biology ,mendefinisikan kesehatan sebagai “suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya,yang di cirikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit “. Jadi sekali lagi pemahaman mengenai kesehatan umumnya masih berfokus pada masalah fisik dan bertitik tolak pada masalah ada tidaknya penyakit .itulah yang menjadi alas an mengapa konsep mengenai penyakit (illness) juga menjadi pembahasan.
Konsep kesehatan mental berhubungan erat dengan
efisiensi menta, dan kadang-kadang kedua konsep tersebut disamakan. Sudah pasti
kesehatan dalam bentuk apa pun merupakan dasar untuk efisiensi, dan Jones
melihat efisiensi sebagai salah satu di antara ketiha segi kesehatan mental dan
normalitas (kedua segi yang lain adalah kebahagiaan dan adaptasi terhadap
kenyataan). Tetapi konsep efisiensi mempunyai arti sendiri, yakni pengunaan
kapasitas-kapasitas untuk mencapai hasil sebaik mungkin dalam keadaan yang ada
pada waktu itu
Ada hubungan yang jelas antara konsep penyesuaian
diri dan kesehatan mental, tetapi hubungan tersebut tidak mudah ditetapkan.
Pasti kesehatan mental merupakan kondisi yang sangat dibutuhkan untuk
penyesuaian diri yang baik, dan demikian pula sebaliknya. Apabila seseorang
bermental sehat, maka sedikit kemungkinan ia akan mengalami ketidakmampuan
menyesuaikan diri yang berat. Kita dapt berkata bahwa kesehatan mental adalah kunci
untuk penyesuaian diri yang sehat (Scott, 1961)
Sejarah kesehatan mencatat ternyata konsep sehat
tidak jelas, lebih banyak ditemui konsep tentang sakit. Ini membuat pemahaman
tentang sehat dan kesehatan juga mengalami kekacauan. Batasan tentang kesehatan
yang tidak jelas mengakibatkan manusia tidak memiliki pegangan yang baku untuk
mencapai derajat kesehatan yang harus dicapai.
Dimensi-dimensi kesehatan mental:ada 4:
·
fisik:yaitu individu sehat secara fisik
·
mental:individu sehat secara mental dan
mampu mengendalikan perasaan “serta mengendalikan emosi
·
sosial:maksudnya di sini mampu membaur
dengan lingkungan sosialnya
·
ekonomi:maksudnya adalah terpenuhi
segala sesuatu untuk kebutuhan sehari hari
Ada perbedaan antara model kesehatan Barat dengan
model kesehatan Timur. Barat memandang kesehatan bersifat dualistik melihat
tubuh manusia sebagai mesin dan dipengaruhi oleh dominasi media. Sementara
Timur lebih bersifat hilistik, melihat kesehatan secara menyeluruh, saling
mengait sehingga memengaruhi cara-cara penanganan terhadap penyakit.
Daftar
pustaka
Bagus Takwin staff UI
http://idb4.wikispaces.com/file/view/uf4018.2.pdf
http://unpredictablepeople.wordpress.com/2011/03/24/pendekatan-kesehatan-mental/
blog.uad.ac.id/.../kuliah-3-pendekatan-dalam-kesehatan
mental
Psikologi
Kepribadian I, Calvin S. Hall & Gerdner Lindzey
Human Developmen II, Papalia Olds Feldmen
Psikologi Pertumbuhan, Duane Schultz
Freud,s.An outline of psychoanalysis.in standard
edition.Vol.23.London:Hogarth press,1964.(first German edition,1940).
Erikson ,E.H.childhood and society.New
York:Norton,1950,2nd
Ed.revised and enlarged,1963.
Ed.revised and enlarged,1963.
Hall,C.S.& Lindzey, G.Theories of Personality.
New York :John Wiley &Snons.(1957,1970,1978)
Maddi, S.R. Personality Theories. A Comparative
Analysis. Homewood,Ill.: The Dorsey Press,(1980).
Hall,C.S.& Lindzey, G.Theories of Personality.
New York :John Wiley &Snons.(1957,1970,1978)
Maddi, S.R. Personality Theories. A Comparative
Analysis. Homewood,Ill.: The Dorsey Press,(1980)
penerbit sarwono, Sarlito.(2010).pengantar psikologi
umum, jakarta:rajawali pers
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental 1.Yogyakarta:
Penerbit ANDI. 31
Jurnal Konsep Kepribadian, Iyus Yosep, SKp., MSi,
Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD
Kesehatan mental, konsep,cakupan dan perkembangannya,
Siswanto,S.Psi., M.SI.
Semiun, Yustinus OFM. 2006. Kesehatan Mental
1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 48-49
Murray, Michael & chamberlain, Kerry. 1990.
Qualitative health psychology.united state America.
Hollinger,R. (1994) postmodernish and the social science.
London: sage
Lupton, D. (1995) the imperative of health: public
health and the regulated body. London:sage